Menyusuri Jejak Budaya Suku Sasak di Desa Sade Lombok
Di antara hamparan sawah hijau dan perbukitan Lombok Tengah, berdiri sebuah perkampungan yang seolah membekukan waktu. Dusun Sade, yang secara administratif berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, menjadi saksi bisu bagaimana suku Sasak mempertahankan tradisi leluhur mereka di tengah derasnya arus modernisasi. Berjarak sekitar 40 km dari pusat Kota Mataram dan hanya 10 km dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Desa Sade menjadi destinasi budaya yang mudah dijangkau namun kaya akan cerita.
Bale, Rumah yang Bercerita
Rumah adat di Desa Sade dikenal dengan nama Bale. Sekilas tampak sederhana, namun setiap sudutnya menyimpan filosofi hidup masyarakat Sasak. Dinding rumah dianyam dari bambu yang disebut bedek, rangkanya dari kayu pilihan, dan atapnya disusun dari alang-alang yang diikat dengan teknik tradisional. Menariknya, seluruh proses pembangunan rumah ini tidak menggunakan satu pun paku. Setiap bagian disatukan dengan cara diikat dan dianyam, sebuah bukti nyata kecerdasan arsitektur nenek moyang yang selaras dengan alam.
Atap alang-alang pada rumah Bale juga tidak dibiarkan begitu saja. Setiap tujuh tahun sekali, warga secara gotong royong mengganti atap tersebut agar rumah tetap kokoh dan nyaman dihuni, sebuah tradisi yang terus dijaga hingga kini.
Lantai Tanah dan Kotoran Kerbau, Kearifan yang Tak Terduga
Salah satu hal paling unik dari rumah Bale adalah lantainya. Berbeda dengan rumah modern yang menggunakan keramik atau semen, lantai rumah Bale terbuat dari tanah liat yang dipel secara rutin menggunakan campuran kotoran kerbau dan abu jerami. Terdengar tidak lazim memang, namun setelah mengering, aroma khasnya hilang sepenuhnya dan justru menghasilkan lantai yang keras, kokoh, serta secara alami bebas dari gangguan nyamuk. Inilah salah satu bentuk kearifan lokal yang membuktikan bahwa masyarakat Sasak telah lama memahami cara hidup berdampingan dengan alam.
Pintu Rendah, Simbol Penghormatan
Ciri khas lain yang akan langsung terlihat oleh setiap pengunjung adalah pintu rumah yang sangat sempit dan rendah, serta tidak adanya jendela. Desain ini bukan tanpa alasan. Setiap tamu yang hendak masuk diharuskan menundukkan badan, sebuah simbol penghormatan kepada pemilik rumah yang tertanam kuat dalam budaya Sasak. Di dalam rumah, ruangan terbagi menjadi beberapa area, mulai dari berugak atau ruang tamu di bagian depan, kamar tidur untuk orang tua dan anak, hingga dapur di bagian belakang.
Lebih dari Sekadar Bangunan
Mengunjungi Desa Sade bukan sekadar melihat rumah tradisional, melainkan menyelami cara pandang hidup masyarakat Sasak yang menjunjung tinggi kesederhanaan, penghormatan, dan keselarasan dengan alam. Setiap detail bangunan, dari material hingga tata ruangnya, menyimpan nilai filosofis yang diwariskan turun-temurun.
Bersama Mahnun Lombok, perjalanan menyusuri Desa Sade akan dipandu oleh pemandu lokal yang memahami setiap kisah di balik keunikan rumah Bale, menjadikan pengalaman wisata budaya Anda di Lombok Tengah lebih bermakna dan mendalam.